You still have two feet. The world won't wait. Start walking and follow your heart.

Thursday, November 5

Chapter 17 : Reuni dan Beha (Part 2)

Ketiga sahabat itu asyik bercengkrama, memperbincangkan hal-hal seputar kehidupan mereka. Dan pada saat beberapa orang pria (dewasa) berkumpul, pasti topik yang dibicarakan tidak jauh kerja, olahraga, dan tentu saja, wanita. Ketiga sahabat ini sudah beristri, dan para istri mereka bisa dikatakan idaman pria pada umumnya. Sering mereka berpikir betapa beruntungnya mereka, wanita-wanita yang digila-gilai banyak pria itu memilih mereka sebagai pasangan hidupnya. Tidak mudah memang untuk memperjuangkan hal tersebut, namun toh mereka bertiga berhasil, walaupun kisah cinta ketiganya tidak ubahnya seperti film Bollywood atau sinetron yang populer di zaman mereka masih muda. Namun untuk hal yang satu ini mereka tidak berkompromi, wanita terlalu indah untuk diabaikan. Lagipula, hanya sekadar mengagumi keindahan wanita tidak akan merusak janji pernikahan. Dan percayalah, walau ketiga pria ini sangat mengagumi keindahan wanita, mereka tidak akan menghianati sumpah pernikahan dan rela bertukar nyawa demi istri dan anak-anak mereka. Tak jarang, Pablo, Damian atau Roger menceritakan siapa yang mereka temui kepada istri-istri mereka. Betapa cantiknya sekretaris Tuan X, atau istri ketiga Tuan Y. Namun tetap saja, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona istri tercinta. Dan para istri mereka juga tidak sungkan menceritakan pengalaman mereka bertemu bos muda berwajah rupawan, atau editor nakal yang mencoba mendekati tanpa tahu bahwa mereka telah menjadi milik orang lain. Mereka percaya bahwa jika semua dikomunikasikan, tidak akan ada masalah. Toh mereka hanya mengagumi, tanpa berusaha memiliki...

Pablo masih merasa terusik dengan pramugari yang biasa menemani Damian dalam hampir setiap perjalanan bisnisnya. Salah satu alasan kenapa Damian selalu naik maskapai yang sama, meskipun sebenarnya kantornya lah yang memutuskan akan naik apa Damian. Kata Damian, tidak ada yang spesial dari Kalyana, pramugari itu, secara fisik. Kalyana memenuhi setiap standar yang diperlukan seorang wanita untuk menjadi pramugari. Namun baru kali itu Damian melihat seorang pramugari berkacamata. Bukan kacamata tebal berbingkai emas memang, hanya kacameta frameless dengan gagang sama yang jika dilihat dari kejauhan tidak akan ketahuan. Pablo membuka pembicaraaan, "Emang boleh ya pramugari berkacamata?". Jawab Damian, "Itu dia Blo, setahuku juga nggak boleh. Baru pertama kali aku lihat pramugari berkacamata, biarpun baru terlihat jelas waktu dia menuangkan teh ke gelasku".
"Mungkin waktu tes dulu, dia belum memakai kacamata. Baru setelah bertugas beberapa tahun ketahuan kalau ternyata dia perlu menggunakan bantuan kacamata. Dan perusahaan nggak mau melepasnya karena kinerjanya yang bagus mungkin?", timpal Roger dengan alasan yang lebih masuk akal. "Itu satu lagi alasan Ger, kenapa dia nggak seperti pramugari-pramugari lain. Waktu dia lagi nuangin teh buatku, dia ngeliat aku lagi baca the NY times. Dia langsung menimpali dengan analisis mengenai harga minyak setara level doktor lulusan petroleum management-nya King Abdullah University. Waktu aku tanya darimana dia bisa tau sebanyak itu, dia bilang dari membaca dan nonton berita." jawab Damian. "Well, that explains her googles then", sahut Pablo. "Aku nggak nyangka aja, pramugari yang identik dengan kelebihan fisik ternyata punya pengetahuan seluas itu. Satu lagi, Ibunya keturunan Indonesia katanya,"sahut Damian. "Ahh, that explains her beauty then", timpal Roger. Mereka tertawa lagi.

0 comments: