Ketiga sahabat itu asyik bercengkrama, memperbincangkan hal-hal seputar kehidupan mereka. Dan pada saat beberapa orang pria (dewasa) berkumpul, pasti topik yang dibicarakan tidak jauh kerja, olahraga, dan tentu saja, wanita. Ketiga sahabat ini sudah beristri, dan para istri mereka bisa dikatakan idaman pria pada umumnya. Sering mereka berpikir betapa beruntungnya mereka, wanita-wanita yang digila-gilai banyak pria itu memilih mereka sebagai pasangan hidupnya. Tidak mudah memang untuk memperjuangkan hal tersebut, namun toh mereka bertiga berhasil, walaupun kisah cinta ketiganya tidak ubahnya seperti film Bollywood atau sinetron yang populer di zaman mereka masih muda. Namun untuk hal yang satu ini mereka tidak berkompromi, wanita terlalu indah untuk diabaikan. Lagipula, hanya sekadar mengagumi keindahan wanita tidak akan merusak janji pernikahan. Dan percayalah, walau ketiga pria ini sangat mengagumi keindahan wanita, mereka tidak akan menghianati sumpah pernikahan dan rela bertukar nyawa demi istri dan anak-anak mereka. Tak jarang, Pablo, Damian atau Roger menceritakan siapa yang mereka temui kepada istri-istri mereka. Betapa cantiknya sekretaris Tuan X, atau istri ketiga Tuan Y. Namun tetap saja, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona istri tercinta. Dan para istri mereka juga tidak sungkan menceritakan pengalaman mereka bertemu bos muda berwajah rupawan, atau editor nakal yang mencoba mendekati tanpa tahu bahwa mereka telah menjadi milik orang lain. Mereka percaya bahwa jika semua dikomunikasikan, tidak akan ada masalah. Toh mereka hanya mengagumi, tanpa berusaha memiliki...
Pablo masih merasa terusik dengan pramugari yang biasa menemani Damian dalam hampir setiap perjalanan bisnisnya. Salah satu alasan kenapa Damian selalu naik maskapai yang sama, meskipun sebenarnya kantornya lah yang memutuskan akan naik apa Damian. Kata Damian, tidak ada yang spesial dari Kalyana, pramugari itu, secara fisik. Kalyana memenuhi setiap standar yang diperlukan seorang wanita untuk menjadi pramugari. Namun baru kali itu Damian melihat seorang pramugari berkacamata. Bukan kacamata tebal berbingkai emas memang, hanya kacameta frameless dengan gagang sama yang jika dilihat dari kejauhan tidak akan ketahuan. Pablo membuka pembicaraaan, "Emang boleh ya pramugari berkacamata?". Jawab Damian, "Itu dia Blo, setahuku juga nggak boleh. Baru pertama kali aku lihat pramugari berkacamata, biarpun baru terlihat jelas waktu dia menuangkan teh ke gelasku".
"Mungkin waktu tes dulu, dia belum memakai kacamata. Baru setelah bertugas beberapa tahun ketahuan kalau ternyata dia perlu menggunakan bantuan kacamata. Dan perusahaan nggak mau melepasnya karena kinerjanya yang bagus mungkin?", timpal Roger dengan alasan yang lebih masuk akal. "Itu satu lagi alasan Ger, kenapa dia nggak seperti pramugari-pramugari lain. Waktu dia lagi nuangin teh buatku, dia ngeliat aku lagi baca the NY times. Dia langsung menimpali dengan analisis mengenai harga minyak setara level doktor lulusan petroleum management-nya King Abdullah University. Waktu aku tanya darimana dia bisa tau sebanyak itu, dia bilang dari membaca dan nonton berita." jawab Damian. "Well, that explains her googles then", sahut Pablo. "Aku nggak nyangka aja, pramugari yang identik dengan kelebihan fisik ternyata punya pengetahuan seluas itu. Satu lagi, Ibunya keturunan Indonesia katanya,"sahut Damian. "Ahh, that explains her beauty then", timpal Roger. Mereka tertawa lagi. Mereka memang mempunyai ketertarikan khusus terhadap wanita-wanita cerdas. Apalagi kalau ternyata wanita cerdas itu juga menarik secara fisik, seperti istri-istri mereka.
MISSINGTHELASTBUSHOME
You still have two feet and the world won't wait. Start walking and follow your heart.
Thursday, November 5
Thursday, September 17
Chapter 12 : Christian dan Muslimah (Part 1)
Satu lagi chapter yang lama mengendap.Enjoy!
"Bro, jangan lupa bawain titipan gue ya", sahut Christian mengakhiri percakapan mereka di telepon
"Pasti bos,besok kan big day lo, mana mungkin gue lupa" jawab Pablo
"Sip! Elo emang the best dah! Gak sia-sia gue milih lo buat jadi bestman gue besok. Kalau aja nyonya lo ga ada, udah gue comblangin lo ama bridesmaid yang cantik-cantik itu. Hahahaha. I’ll see you tomorrow then! OK bro! Bye"
"Ngemeng aja lo! Tidur sana, puas-puasin tidur sendiri sebelum berbagi tempat tidur ama bini lo seumur hidup, hahaha. Bye Yan!"
Pablo meletakkan gagang telepon. Christian, atau Ian, begitu teman-temannya biasa memanggilnya, salah satu sahabat Pablo. Christian yang seorang keturunan Tionghoa, yang sejak jaman kuliah dipanggil profesor mata sipit. Kuliah di Fakultas Teknik Elektro sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta, dan memperoleh gelar master di bidang yang sama di Belanda. Christian yang sejak dulu cuma pacaran sekali, lebih suka bergaul dengan buku, komik dan game. Yang malu kalau mengobrol dengan perempuan sekaligus yang paling memuja perempuan. Christian yang selalu paling antusias kalau diajak ngobrol tentang perempuan, terutama bagian-bagian tertentu dari mereka. Dia juga pemain gitar yang handal. Empat dari lima pamannya pendeta, kalau saja dia tidak lulus SPMB, pasti sudah menjadi salah satu dari mereka sekarang. Oia, Christian juga paling senang yang namanya chatting, dan penggemar berat MIRC.
Muslimah, atau Mus, sapaan akrabnya, lain lagi ceritanya. Sarjana psikologi sebuah universitas tertua di Indonesia. Berasal dari keluarga keturunan Arab. Ayah Mus adalah seorang guru besar di salah satu universitas Islam ternama di Jakarta. Ayahnya berencana menyekolahkan Mus ke Amerika untuk mengambil gelar master, tetapi Mus menolak. Ingin jadi guru TK katanya. Setiap berbicara tentang Mus, Pablo selalu ingat sebuah novel yang menggemparkan Indonesia semasa dia kuliah. Tentang perjuangan sekelompok anak di daerah Belitong yang berjuang untuk menggapai cita-cita setinggi-tingginya. Berusaha memperoleh pendidikan yang lebih baik walaupun harus terpisah oleh benua dan samudera dari kampung halaman dan keluarga. Salah satu cerita yang menginspirasi Pablo untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Dan guru dari anak-anak luar biasa itu bernama Ibu Muslimah. Pablo tidak tahu apakah Ayahanda Mus pernah membaca novel itu atau tidak. Yang pasti sosok Bu Mus sangat berpengaruh dalam cerita itu. Pablo juga selalu mengagumi demokrasi dalam keluarga Mus. Ayahnya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Asalkan sang anak berada di jalan yang benar dan bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, keluarga akan selalu mendukung sepenuhnya. Pendidikan memang selalu menjadi cahaya bagi setiap orang dengan caranya masing-masing, tidak hanya di otak tetapi juga di hati. Pablo juga yakin kalau Mus akan menjadi guru yang sama hebatnya dengan Bu Mus dalam novel bersejarah tersebut.
Perkenalan Christian dan Mus sedikit banyak berkat campur tangan Pablo. Ketika merayakan ulang tahunnya di sebuah kafe di Jakarta beberapa tahun silam, tentu saja Pablo mengundang para sahabatnya termasuk Christian dan Muslimah yang waktu itu belum saling kenal. Pablo mengenal Mus pada sebuah seminar yang diadakan di Jakarta. Mus yang ternyata teman dari adik perempuan Pablo, Talia. Pablo ingat dengan jelas ketika pertama kali dia memperkenalkan Christian dengan Muslimah, tahu bahwa sahabatnya itu butuh lebih dari teman-teman yang bisa diajak nongkrong di bonbin, main futsal atau ngegame. Ian dengan pipinya yang super putih dan bundar langsung memerah begitu bersalaman dengan Mus yang katanya seperti bintang film.
"Wow Bro, lo ga cerita kalo punya temen secakep itu."
"Hahaha, Mus itu temennya Talia Yan, gue aja baru ketemu dua kali" jawab Pablo
"Wah, kalau gitu gue mesti deketin Talia nih buat minta nomor hapenya. Mana adek lo?"sahut Ian lagi
"Kayak lo berani aja Yan" kata Pablo. "Lagian mana mungkin bapak pendeta kita ini sanggup jalan dengan putri Pak Haji."
"Ooo, jadi Mus itu......."sahut Ian
"Ya iyalah Dut, dari namanya aja udah keliatan gitu"
Beberapa hari setelah ulang tahunnya, Pablo langsung terbang ke Inggris, karena perkuliahan akan segera dimulai. Pablo mengambil jurusan finance di salah satu universitas di bagian selatan inggris. Dia lama tidak berkabar-kabaran dengan Ian dan sahabat-sahabatnya yang lain di Indonesia.Karena sibuk mengurus administrasi, akomodasi, ditambah lagi Pablo harus beradaptasi denga lingkungan barunya membuatnya kehilangan banyak waktu untuk bercengkrama dengan para sahabatnya. Sampai suatu sore setelah tiga bulan di Inggris, ketika Pablo baru pulang dari kampus, skype di laptopnya berbunyi, dari Ian.
"Halo Yan!"
"Bro!!Sombong lo ya, gak ngabar-ngabarin udah di UK. Pasti lo udah ke Old Trafford deh, lupa ama temen-temen lo di Indo"
"Maap,maap Yan, gue lagi sibuk banget nih. Maklum, maba, hehe"
"Becanda bro, gue juga tahu lo pasti sibuk banget. Gue waktu ngambil Master dulu juga gitu kok. Gue nelpon lo buat ngasitau sebuah kabar penting."
"Kabar apaan dut? Sampe lo bela-belain ke warnet buat ngeskype gue"sahut Pablo
"Nggak dong, kan gue udah pasang internet di rumah sekarang Blo. hehe"jawab Ian
"Wuihh, gaya lo dut. Apaan beritanya?"tanya Pablo lagi.
"Oia, gini-gini. Besok, gue mau nonton sama Mus."
"Sama siapa Yan? Mus? Muslimah temennya Talia?? Anaknya Pak Umar?"
"Iya Bro.Gimana menurut lo?" tanya Ian lagi.
Tiba-tiba Pablo merasakan jus bayam plus buah bit buatan Ibu mengalir di kerongkongannya.Pahit.
Pic: http://farm2.static.flickr.com/1108/759210960_e5cbd1de5e.jpg
"Pasti bos,besok kan big day lo, mana mungkin gue lupa" jawab Pablo
"Sip! Elo emang the best dah! Gak sia-sia gue milih lo buat jadi bestman gue besok. Kalau aja nyonya lo ga ada, udah gue comblangin lo ama bridesmaid yang cantik-cantik itu. Hahahaha. I’ll see you tomorrow then! OK bro! Bye"
"Ngemeng aja lo! Tidur sana, puas-puasin tidur sendiri sebelum berbagi tempat tidur ama bini lo seumur hidup, hahaha. Bye Yan!"
Pablo meletakkan gagang telepon. Christian, atau Ian, begitu teman-temannya biasa memanggilnya, salah satu sahabat Pablo. Christian yang seorang keturunan Tionghoa, yang sejak jaman kuliah dipanggil profesor mata sipit. Kuliah di Fakultas Teknik Elektro sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta, dan memperoleh gelar master di bidang yang sama di Belanda. Christian yang sejak dulu cuma pacaran sekali, lebih suka bergaul dengan buku, komik dan game. Yang malu kalau mengobrol dengan perempuan sekaligus yang paling memuja perempuan. Christian yang selalu paling antusias kalau diajak ngobrol tentang perempuan, terutama bagian-bagian tertentu dari mereka. Dia juga pemain gitar yang handal. Empat dari lima pamannya pendeta, kalau saja dia tidak lulus SPMB, pasti sudah menjadi salah satu dari mereka sekarang. Oia, Christian juga paling senang yang namanya chatting, dan penggemar berat MIRC.
Muslimah, atau Mus, sapaan akrabnya, lain lagi ceritanya. Sarjana psikologi sebuah universitas tertua di Indonesia. Berasal dari keluarga keturunan Arab. Ayah Mus adalah seorang guru besar di salah satu universitas Islam ternama di Jakarta. Ayahnya berencana menyekolahkan Mus ke Amerika untuk mengambil gelar master, tetapi Mus menolak. Ingin jadi guru TK katanya. Setiap berbicara tentang Mus, Pablo selalu ingat sebuah novel yang menggemparkan Indonesia semasa dia kuliah. Tentang perjuangan sekelompok anak di daerah Belitong yang berjuang untuk menggapai cita-cita setinggi-tingginya. Berusaha memperoleh pendidikan yang lebih baik walaupun harus terpisah oleh benua dan samudera dari kampung halaman dan keluarga. Salah satu cerita yang menginspirasi Pablo untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Dan guru dari anak-anak luar biasa itu bernama Ibu Muslimah. Pablo tidak tahu apakah Ayahanda Mus pernah membaca novel itu atau tidak. Yang pasti sosok Bu Mus sangat berpengaruh dalam cerita itu. Pablo juga selalu mengagumi demokrasi dalam keluarga Mus. Ayahnya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Asalkan sang anak berada di jalan yang benar dan bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, keluarga akan selalu mendukung sepenuhnya. Pendidikan memang selalu menjadi cahaya bagi setiap orang dengan caranya masing-masing, tidak hanya di otak tetapi juga di hati. Pablo juga yakin kalau Mus akan menjadi guru yang sama hebatnya dengan Bu Mus dalam novel bersejarah tersebut.
Perkenalan Christian dan Mus sedikit banyak berkat campur tangan Pablo. Ketika merayakan ulang tahunnya di sebuah kafe di Jakarta beberapa tahun silam, tentu saja Pablo mengundang para sahabatnya termasuk Christian dan Muslimah yang waktu itu belum saling kenal. Pablo mengenal Mus pada sebuah seminar yang diadakan di Jakarta. Mus yang ternyata teman dari adik perempuan Pablo, Talia. Pablo ingat dengan jelas ketika pertama kali dia memperkenalkan Christian dengan Muslimah, tahu bahwa sahabatnya itu butuh lebih dari teman-teman yang bisa diajak nongkrong di bonbin, main futsal atau ngegame. Ian dengan pipinya yang super putih dan bundar langsung memerah begitu bersalaman dengan Mus yang katanya seperti bintang film.
"Wow Bro, lo ga cerita kalo punya temen secakep itu."
"Hahaha, Mus itu temennya Talia Yan, gue aja baru ketemu dua kali" jawab Pablo
"Wah, kalau gitu gue mesti deketin Talia nih buat minta nomor hapenya. Mana adek lo?"sahut Ian lagi
"Kayak lo berani aja Yan" kata Pablo. "Lagian mana mungkin bapak pendeta kita ini sanggup jalan dengan putri Pak Haji."
"Ooo, jadi Mus itu......."sahut Ian
"Ya iyalah Dut, dari namanya aja udah keliatan gitu"
..................
Beberapa hari setelah ulang tahunnya, Pablo langsung terbang ke Inggris, karena perkuliahan akan segera dimulai. Pablo mengambil jurusan finance di salah satu universitas di bagian selatan inggris. Dia lama tidak berkabar-kabaran dengan Ian dan sahabat-sahabatnya yang lain di Indonesia.Karena sibuk mengurus administrasi, akomodasi, ditambah lagi Pablo harus beradaptasi denga lingkungan barunya membuatnya kehilangan banyak waktu untuk bercengkrama dengan para sahabatnya. Sampai suatu sore setelah tiga bulan di Inggris, ketika Pablo baru pulang dari kampus, skype di laptopnya berbunyi, dari Ian.
"Halo Yan!"
"Bro!!Sombong lo ya, gak ngabar-ngabarin udah di UK. Pasti lo udah ke Old Trafford deh, lupa ama temen-temen lo di Indo"
"Maap,maap Yan, gue lagi sibuk banget nih. Maklum, maba, hehe"
"Becanda bro, gue juga tahu lo pasti sibuk banget. Gue waktu ngambil Master dulu juga gitu kok. Gue nelpon lo buat ngasitau sebuah kabar penting."
"Kabar apaan dut? Sampe lo bela-belain ke warnet buat ngeskype gue"sahut Pablo
"Nggak dong, kan gue udah pasang internet di rumah sekarang Blo. hehe"jawab Ian
"Wuihh, gaya lo dut. Apaan beritanya?"tanya Pablo lagi.
"Oia, gini-gini. Besok, gue mau nonton sama Mus."
"Sama siapa Yan? Mus? Muslimah temennya Talia?? Anaknya Pak Umar?"
"Iya Bro.Gimana menurut lo?" tanya Ian lagi.
Tiba-tiba Pablo merasakan jus bayam plus buah bit buatan Ibu mengalir di kerongkongannya.Pahit.
....................
Tuesday, September 15
Chapter 17 : Reuni dan Beha (Part 1)
Mencoba melanjutkan proyek 'ambisius' :D penulisan novel yang lama mengendap dan baru mendapat ide setelah menghabiskan malam mengobrol bersama orang-orang hebat.
.jpg)
.jpg)
.......
Sebentar-sebentar, Pablo melirik ke pergelangan tanggannya, pukul tiga kurang sepuluh. Sambil menyeruput Spiced Chai-nya, Pablo melanjutkan membaca London Times. Sore musim gugur yang sangat indah di London membuat Pablo rela berehat sejenak untuk sekedar menikmati secangkir teh bersama sepotong Valrhona brownie atau mini Belgian Blondie. Walaupun sebenarnya dia adalah seorang penggila kopi, tapi Pablo tidak akan melewatkan kesempatan menikmati teh di tempat ini. Apalagi sore ini bukan sore seperti sore-sore biasanya. Sore ini Pablo akan bertemu dengan dua orang sahabatnya, dan Bea's of Bloomsbury memang selalu menjadi titik rendezvouz favorit mereka. Ketiga orang ini sering menyebutnya dengan "Beha" yang mengacu kepada pakaian dalam wanita, walaupun dalam pelafalan Bahasa Inggrisnya sangat jauh dari kata itu, namun cukup dekat apabila diucapkan dalam Bahasa Indonesia, negara asal mereka. Atau kalau sedang agak waras, mereka cukup menyebutnya "BB".Tetapi lebih sering tidak.
Pablo melirik ke arah jalan melalui kaca Bea's yang transparan. Theobald Rd masih sama seperti yang dikenalnya seperti waktu pertama kali menginjakkan kaki di London. Chancery Lane Tube, stasiun terdekat dari Theobald Rd, kira-kira tujuh menit berjalan kaki ke arah tenggara. Museum Charles Dickens yang berada di Doughty Street, yang dulunya merupakan rumah dari salah satu pengarang legendaris tersebut, dan satu-satunya rumah yang selamat. Pablo melirik kembali harian sorenya. Di pojok kanan bawah sebuah halaman, dia membaca, "Akeelah and The Bee at Royal National Theatre". Akeelah and The Bee, tentu saja dia sudah menonton film itu. Sebuah film produksi tahun 2006 tentang seorang gadis African-American, yang sekarang akan dipentaskan ulang di Royal National Theatre. Lama Pablo memandang kata "Akeela", sebuah nama yang mengingatkannya akan pertemuan dengan dua orang sahabat gilanya beberapa tahun silam.
Pablo punya banyak sekali sahabat, dan setiap sahabat mempunyai kisahnya masing-masing. Para sahabatnya sering menyebut Pablo "peer stalker", atau penguntit kelompok. Mungkin itu bukan hal yang bisa dibanggakan, namun Pablo juga sangat yakin kalau itu bukan hal yang buruk. Dia selalu ingin berteman dan punya terlalu banyak teman sehingga Pablo merasa tidak adil kalau menghabiskan waktu bersama orang yang itu-itu saja. Ditambah lagi dia adalah orang yang sangat cepat bosan dan terlalu bebas untuk dikekang. Para sahabatnya juga mengatakan hal itu merupakan kekurangan sekaligus kelebihannya. Pablo selalu bisa menyatu dengan "kelompok-kelompok" sahabatnya tanpa menjadi bagian dari mereka. Ketika dia bergaul dengan para kutu buku, maka pablo akan menjadi kutu yang paling rakus melahap halaman demi halaman buku. Ketika bergaul dengan gerombolan atlet tennis, Pablo akan menjelma menjadi Roger Federer, walaupun akhirnya hanya menjadi Federer wannabe. Hanya ketika menikmati weekend bersama para penggila disko di sebuah club di sudut kota, Pablo tidak menjadi dancing king, namun berakhir sebagai supir, mengantarkan para sahabatnya yang setengah sadar pulang ke rumah, entah rumah siapa. Karena itu kalau ditanya siapa sahabat terbaiknya, Pablo akan bingung menjawab.
Dan Aqeela, bukan Akeelah, menjadi salah satu tempat dimana dia dan para sahabatnya sering mengobrol, menghabiskan waktu. Pablo ingat malam sebelum Roger, salah satu sahabatnya berangkat ke UK karena memperoleh beasiswa. Dia, bersama Roger dan Damian menyeruput kopi sambil sekali-sekali melirik ke arah wanita yang bagian atas bajunya sengaja dimiringkan ke arah bahu kanannya. Walaupun sebenarnya mereka yakin seratus persen kalau pembuat baju itu tidak bermaksud demikian, toh mereka menikmatinya sebagai hiburan.
"Cuy!!" Pablo tersentak dari lamunannya. Damian menyapanya dengan gayanya yang khas. Masih dengan kacamata dan sepatu pantofel, signature stylenya yang tidak berubah sejak jaman mereka masih mahasiswa. "Bro!!" Pablo balas menjawab sambil merangkul sahabatnya itu. "Apa kabar? Gimana perjalanan dari NY? Stewardess muda yang kau taksir masih disana nggak?" kata Pablo sambil tersenyum, tahu bahwa Damian selalu naik maskapai yang sama, business class. Fasilitas perusahaan katanya. "Wah, udah nggak bro, kayaknya dia takut ngeliat aku."
Tawa mereka berderai. "Apa kabar Giana? Udah lama banget aku nggak ketemu dia?" kata Pablo lagi. "Baik, dia baru aja nyelesein spesialis nya kemarin. Dokter bedah sekarang dia. Alexa apa kabar?" jawab Damian sambil menanyakan kabar Alexandra, isteri Pablo.
"Wah, selamat ya Dam. Jangan-jangan kau pasien pertamanya? Dijadiin kelinci percobaan nggak? Hahaha. Alexa baik. Dia baru aja launching buku baru kemarin. Dia titip salam katanya" sahut Pablo.
Obrolan mereka terhenti oleh kehadiran sosok ketiga, Roger. Seorang pria yang juga berkacamata berperawakan sedang. "Wah, ini dia yang nggak berubah,dari dulu selalu telat" kata Damian. "Yoi, udah gitu gak bawa oleh-oleh lagi" sahut Pablo. Namun tak urung mereka berdua merangkul Roger yang tampak merasa bersalah, walaupun dia tahu Pablo dan Damian hanya bercanda. "Sorry,sorry bro, aku baru selesai meeting sama Bapak Dubes. Makanya agak terlambat" jawab Roger. "Wah, bapak calon menteri kita ini memang sibuk" sambung Pablo sambil mempersilahkan Roger duduk. "Ahh, kau bisa aja. Bapak serba bisa kita ini kan yang dulu menolak tawaran kerja di World Bank" jawab Roger tidak mau kalah. "Iya nih bro, kalau aku ingat dulu kau menolak tawaran World bank, jadi aku yang nyesel. Pengen rasanya aku melarang kau buat nolak" sahut Damian. "Gak apa-apa bro, daripada aku ngerjain apa yang nggak aku sukai. I do what I like, I like what I do. Lagipula mana mungkin kalian melarang abang kalian ini" kata Pablo sambil tersenyum. "Wuihh,mentang-mentang sekarang dia jadi abang kita Dam, sombong dia" jawab Roger. "Iya Ger, padahal umurmya kan lebih mudah dari kita berdua" timpal Damian. "Weitts, tunggu dulu, you Damian TM S and you, Roger E S, you married my sister and my cousin. C'mon guys! You should've called me 'Kakak Pertama'." Mereka bertiga tertawa, membuat sore di kota London menjadi semakin meriah.
Pablo melirik ke arah jalan melalui kaca Bea's yang transparan. Theobald Rd masih sama seperti yang dikenalnya seperti waktu pertama kali menginjakkan kaki di London. Chancery Lane Tube, stasiun terdekat dari Theobald Rd, kira-kira tujuh menit berjalan kaki ke arah tenggara. Museum Charles Dickens yang berada di Doughty Street, yang dulunya merupakan rumah dari salah satu pengarang legendaris tersebut, dan satu-satunya rumah yang selamat. Pablo melirik kembali harian sorenya. Di pojok kanan bawah sebuah halaman, dia membaca, "Akeelah and The Bee at Royal National Theatre". Akeelah and The Bee, tentu saja dia sudah menonton film itu. Sebuah film produksi tahun 2006 tentang seorang gadis African-American, yang sekarang akan dipentaskan ulang di Royal National Theatre. Lama Pablo memandang kata "Akeela", sebuah nama yang mengingatkannya akan pertemuan dengan dua orang sahabat gilanya beberapa tahun silam.
Pablo punya banyak sekali sahabat, dan setiap sahabat mempunyai kisahnya masing-masing. Para sahabatnya sering menyebut Pablo "peer stalker", atau penguntit kelompok. Mungkin itu bukan hal yang bisa dibanggakan, namun Pablo juga sangat yakin kalau itu bukan hal yang buruk. Dia selalu ingin berteman dan punya terlalu banyak teman sehingga Pablo merasa tidak adil kalau menghabiskan waktu bersama orang yang itu-itu saja. Ditambah lagi dia adalah orang yang sangat cepat bosan dan terlalu bebas untuk dikekang. Para sahabatnya juga mengatakan hal itu merupakan kekurangan sekaligus kelebihannya. Pablo selalu bisa menyatu dengan "kelompok-kelompok" sahabatnya tanpa menjadi bagian dari mereka. Ketika dia bergaul dengan para kutu buku, maka pablo akan menjadi kutu yang paling rakus melahap halaman demi halaman buku. Ketika bergaul dengan gerombolan atlet tennis, Pablo akan menjelma menjadi Roger Federer, walaupun akhirnya hanya menjadi Federer wannabe. Hanya ketika menikmati weekend bersama para penggila disko di sebuah club di sudut kota, Pablo tidak menjadi dancing king, namun berakhir sebagai supir, mengantarkan para sahabatnya yang setengah sadar pulang ke rumah, entah rumah siapa. Karena itu kalau ditanya siapa sahabat terbaiknya, Pablo akan bingung menjawab.
Dan Aqeela, bukan Akeelah, menjadi salah satu tempat dimana dia dan para sahabatnya sering mengobrol, menghabiskan waktu. Pablo ingat malam sebelum Roger, salah satu sahabatnya berangkat ke UK karena memperoleh beasiswa. Dia, bersama Roger dan Damian menyeruput kopi sambil sekali-sekali melirik ke arah wanita yang bagian atas bajunya sengaja dimiringkan ke arah bahu kanannya. Walaupun sebenarnya mereka yakin seratus persen kalau pembuat baju itu tidak bermaksud demikian, toh mereka menikmatinya sebagai hiburan.
"Cuy!!" Pablo tersentak dari lamunannya. Damian menyapanya dengan gayanya yang khas. Masih dengan kacamata dan sepatu pantofel, signature stylenya yang tidak berubah sejak jaman mereka masih mahasiswa. "Bro!!" Pablo balas menjawab sambil merangkul sahabatnya itu. "Apa kabar? Gimana perjalanan dari NY? Stewardess muda yang kau taksir masih disana nggak?" kata Pablo sambil tersenyum, tahu bahwa Damian selalu naik maskapai yang sama, business class. Fasilitas perusahaan katanya. "Wah, udah nggak bro, kayaknya dia takut ngeliat aku."
Tawa mereka berderai. "Apa kabar Giana? Udah lama banget aku nggak ketemu dia?" kata Pablo lagi. "Baik, dia baru aja nyelesein spesialis nya kemarin. Dokter bedah sekarang dia. Alexa apa kabar?" jawab Damian sambil menanyakan kabar Alexandra, isteri Pablo.
"Wah, selamat ya Dam. Jangan-jangan kau pasien pertamanya? Dijadiin kelinci percobaan nggak? Hahaha. Alexa baik. Dia baru aja launching buku baru kemarin. Dia titip salam katanya" sahut Pablo.
Obrolan mereka terhenti oleh kehadiran sosok ketiga, Roger. Seorang pria yang juga berkacamata berperawakan sedang. "Wah, ini dia yang nggak berubah,dari dulu selalu telat" kata Damian. "Yoi, udah gitu gak bawa oleh-oleh lagi" sahut Pablo. Namun tak urung mereka berdua merangkul Roger yang tampak merasa bersalah, walaupun dia tahu Pablo dan Damian hanya bercanda. "Sorry,sorry bro, aku baru selesai meeting sama Bapak Dubes. Makanya agak terlambat" jawab Roger. "Wah, bapak calon menteri kita ini memang sibuk" sambung Pablo sambil mempersilahkan Roger duduk. "Ahh, kau bisa aja. Bapak serba bisa kita ini kan yang dulu menolak tawaran kerja di World Bank" jawab Roger tidak mau kalah. "Iya nih bro, kalau aku ingat dulu kau menolak tawaran World bank, jadi aku yang nyesel. Pengen rasanya aku melarang kau buat nolak" sahut Damian. "Gak apa-apa bro, daripada aku ngerjain apa yang nggak aku sukai. I do what I like, I like what I do. Lagipula mana mungkin kalian melarang abang kalian ini" kata Pablo sambil tersenyum. "Wuihh,mentang-mentang sekarang dia jadi abang kita Dam, sombong dia" jawab Roger. "Iya Ger, padahal umurmya kan lebih mudah dari kita berdua" timpal Damian. "Weitts, tunggu dulu, you Damian TM S and you, Roger E S, you married my sister and my cousin. C'mon guys! You should've called me 'Kakak Pertama'." Mereka bertiga tertawa, membuat sore di kota London menjadi semakin meriah.
....................
Pic: http://1.bp.blogspot.com/_V7WaNcOOMUU/Sl4jvXQbnSI/AAAAAAAAGCY/lJuPQGD0wZ8/s400/Bea's+of+Bloomsbury+14+(532+x+486).jpg
Wednesday, September 9
Menulis
Memang benar-benar sibuk, atau pura-pura sibuk atau me'nyibuk'kan diri, sehingga saya sudah berbulan-bulan tidak menulis. Sebenarnya banyak hal yang ingin saya ungkapkan, katakan dan ceritakan. Hal-hal sederhana yang membuat saya tertawa. Kejadian-kejadian kecil yang memastikan serotonin dan endorfin saya masih menjalankan fungsinya masing-masing. Namun lagi-lagi, berkedok kesibukan yang sebenarnya adalah kemalasan membuat blog saya menganggur selama beberapa waktu. Hari ini, setelah membaca blog milik Dee yang kerap menjadi booster untuk kembali menulis, saya kembali diyakinkan bahwa menulis itu menyenangkan. Suatu hal yang menurut para ahli bersifat therapeutic sekaligus addictive. Welcome back. Selamat menulis kembali.
Monday, March 16
Terima Kasih
22 tahun duka dan cobaan
264 bulan nasehat dan teguran
8030 hari emosi dan kebahagiaan
seumur hidup kasih sayang dan persahabatan
tak pernah berhenti mengucap syukur
atas setiap detik yang Kau berikan
keluarga, sahabat dan mereka yang selalu ada
inilah perjalanan hidup hamba
yang kecil
namun tak luput Kau beri makna
Terima kasih Tuhan
Labels:
Air
Subscribe to:
Posts (Atom)

